Perbedaan Ceramah dan Pidato

Diposting pada
Rate this post

Perbedaan Ceramah dan Pidato – Assalamualaikum sobat PPKN.co.id di kesempatan ini hadir kembali penulis untuk berbagi artikel yang membahas tentang Perbedaan Ceramah dan Pidato. Bagaimana pembahasannya ? Berikut penjelasan terlengkapnya.

Perbedaan Ceramah dan Pidato
Perbedaan Ceramah dan Pidato

Perbedaan Ceramah dan Pidato dari Sisi Definisi

Pidato

Pidato adalah suatu kegiatan berbicara dengan suara nyaring atau terdengar secara luas yang di lakukan di depan umum untuk mengemukakan pendapatnya, atau memberikan penjelasan tentang suatu hal yang sifatnya umum.

Pidato juga bisa di katakan sebagai orasi di depan umum.

Ceramah

Ceramah adalah suatu kegiatan berbicara di depan para pendengar dengan isi yang berkenaan dengan agama berupa nasehat dan petunjuk-petunjuk Ilmu Agama

Perbedaan Ceramah dan Pidato dari Sisi Tema atau Isi

Pidato

Isi dari pidato adalah tentang masalah umum yang sedang di hadapi atau memberikan gambaran tentang suatu masalah yang sifatnya pemberitahuan.

Ceramah

Isi dari ceramah adalah tentang nasihat agama berupa hukum hukum syar’i dan ajakan agar kita bisa mengamalkan agama sesuai dengan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya sallallahu alaihi wassalam.

Perbedaan Dari Sisi Tujuan

Pidato

Tujuannya adalah untuk menyampaikan gagasan pribadi atau golongan, dan sifatnya baru hasil pemikiran sendiri ataupun hasil dari pemikiran bersama.

Ceramah

Tujuan ceramah adalah untuk menyampaikan nasihat agama juga hukum halal haram, dan sifatnya khusus untuk kaum muslimin berdasarkan dalil dari Al Quran, hadits, ijma ulama dan qiyas.

Di Lihat Dari Sisi Siapa Yang Menyampaikan

Pidato

Yang bisa menyampaikan pidato adalah siapapun berhak dan bisa berpidato asalkan mempunyai ilmu tentang yang akan di sampaikannya.

Ceramah

Yang bisa menyampaikan ceramah adalah orang yang berkompeten dibidang Agama,seperti ustadz, kiyai ataupun Ulama, tidak semua orang bisa berceramah.

DI Lihat dari Sisi Tempat

Pidato

Bisa di adakan di semua tempat kecuali di masjid, karena di masjid dilarang membicarakan masalah duniawi.

Ceramah

Bisa di lakukan di mana saja, dan bahkan di anjurkan di masjid.

Contoh Pidato dan Ceramah

Pidato

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Kepada hadirin sekalian yang saya muliakan, yang terhormat Dewan guru dan staf tata usaha SMPN 1 Banyuwangi dan murid-murid SMPN 1 yang saya cintai

Patutlah kita mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkatnya yang telah mengizinkan kita untuk berkumpul di sini sebagai keluarga besar SMPN 1 Banyuwangi.

Pada kesempatan yang baik kali ini, Dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional. Kita tingkatkan pentingnya menuntut ilmu bagi seluruh generasi muda terutama pendidikan dasar 9 tahun. Menuntut ilmu sangat bermanfaat untuk kita semua. Karena, ilmu merupakan bekal kita di masa yang akan mendatang untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu. Semua orang pantas mendapatkan ilmu walaupun seberapa tua mereka, menerima ilmu tidak memandang dari kondisi.

Dan ada pepatah yang berkata ‘tuntutlah ilmu sampai ke negri Cina’ yang mengandung arti, bahwa menuntut ilmu itu tidak ada batasannya. Walaupun sejauh manapun kita mencarinya dan sepintar apapun kita. Maka dari itu, kita tidak boleh sombong atas kepintaran yang telah diberikan oleh Allah SWT. Melainkan, kita harus mensyukurinya.

Oleh karenanya, hari ini kita akan mendengarkan bersama ceramah mengenai pentingnya menuntut ilmu yang akan disampaikan oleh Tiara Rizki Tania. Saya harap ceramah ini sangat berguna dan dapat dimanfaatkan ilmunya.

Demikian sambutan dari saya. Semoga acara ini berjalan dengan lancer. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf bila ada salah kata yang tidak berkenan di hati saudar saudari sekalian.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Ceramah

Assalmu’alaikum Wr.Wb

اَلْحَمْدُ للهِ وَالشُّكْرُلِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسّلَامُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ سَيّدِ نَا وَمَوْلَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ, اَمَّا بَعْدُة

Sebelumnya, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sehingga kita dapat berkumpul di sini dengan sehat wal afiat.

Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW.

Para hadirin sekalian.

Jujur merupakan cerminan sejati seorang muslim. Rasulullah SAW adalah orang yang terkenal dengan kejujurannya. Dalam kehidupan sehari-harinya, beliau selalu mengedepankan kejujuran. Karena jujur adalah akhlak yang sangat baik menurut pandangan Allah SWT.

Bila kita senantiasa memeliharan kejujuran dalam hidup kita, niscaya kita akan menjadi bagian dari orang yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat.

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudara sekalian,

Kita semua setuju bahwa jujur merupakan budi pekerti yang mulia. Dengan kejujuran, seseorang perlahan akan menuju kebaikan. Apabila seseorang telah jujur dan mampu menempatkan suatu kebaikan, maka ia terbimbing menuju surga. Bukanlah Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran membimbing kearah kebaikan. Dan kebaikan itu membimbingnya ke surga. Seseorang yang jujur, maka hingga di sisi Allah ia akan menjadi orang yang jujur dan benar. Sedangkan sifat dusta membimbing seseorang pada kejahatan. Lalu kejahatan itu menyeret ke neraka. Seseorang yang biasa berdusta, maka hingga di sisi Allah kelak tetap menjadi pendusta. (HR. Bukhari Muslim)

Para hadirin yang dirahmati Allah,

Orang yang suka berterus terang dan jujur dalam segala hal kehidupan ini, maka ia termasuk memiliki sifat kenabian. Sebab tentu saja orang-orang yang jujur ini suka sekali dengan kebenaran. Karena sukanya, maka ia selalu memelihara akhlaknya dari dusta. Karena itu ia cenderung untuk melakukan kebaikan dan menegakan kebenaran agama.

Dalam Surat Maryam ayat 41, Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Artinya:

Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (QS: Maryam Ayat: 41)

Kemudian di bagian lain, yaitu ayat 54 diterangkan pula:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

Artinya:

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. (QS: Maryam Ayat: 54)

Para bapak, Ibu dan saudara sekalian,

Kejujuran itu dekat dengan kebenaran. Kebenaran adalah sesuatu yang disenangi Allah. Jika Allah senang, maka pastilah Dia akan mengasihi. Dan hambaNya yang jujur, maka kelak di hari Kiamat akan disediakan tempat yang menyenangkan, yaitu surga.

Sesungguhnya kejujuran dan sikap terus terang akan membawa diri seseorang menuju ke jalan kemerdekaan jiwa. Jiwa yang merdeka bebas tanpa ikatan. Sebab orang yang selalu jujur, maka ia tidak merasa cemas dan takut kepada siapapun. Apa yang dilihatnya akan dikatakan apa adanya. Tiada tersembunyi dan terselipi kebohongan sedikit pun.

Orang yang senantiasa jujur, maka ia pun jujur terhadap dirinya sendiri, kejujuran pada diri sendiri dapat mengantarkan dirinya pada suatu kemajua. Di mana, karena jujur, akhirnya ia mengakui kekurangan dan kelemahan yang dimiliki. Jika seseorang menyadari kekuarangan dan kelemahannya, pasti ia tidak mempunyai sifat sombong. Dengan demikian tentu akan terus belajar dan berusaha untuk meningkatkan diri dan memperbaiki kelemahan yang dimiliki.

Para hadirin yang saya hormati,

Sekali lagi saya katakan bahwa orang yang jujur tidak akan takut kepada siapapun juga. Jika ia harus menghadapi bahaya dari perkataannya yang jujur, maka ia tidak akan khawatir. Bahkan ia tak segan-segan mengatakan apa adanya. Tetapi terhadap diri dan hatinya sendiri ia sangat takut. Ketakutan itu ialah jangan-jangan ia memungkiri suara hatinya sendiri. Di mana suara hati mengemukakan kebenaran.

Oleh karena itu sebagai seorang muslim, hendaknya kita senantiasa bersikap jujur, di mana dan kapan saja. Dalam pergaulan sehari-hari, kejujuran perlu diterapkan. Marilah kita tunjukan kepada masyarakat bahwa seorang muslim selalu memiliki akhlak mulia.

Billahit tawfiq wal hidayat, wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuhu.

Kesimpulan Perbedaan Ceramah dan Pidato

  • Pidato adalah menyampaikan gagasan ide hasil pemikiran pribadi atau kelompok kepada khalayak umum yang mana gagasan tersebut sifatnya baru yang tujuannya adalah untuk memberi tahu tentang gagasannya tersebut.
  • Ceramah adalah menyampaikan nasihat dan ilmu agama oleh seorang yang berkompeten, seperti ustad kepada umat Islam yang mau menjadi pendengarnya, yang di sampaikan adalah perkara yang sudah ada di dalam Al Quran, Hadits, Ijma Ulama dan qiyas, bukan hasil pemikiran pribadi, dan tujuannya adalah agar pendengar mau mengamalkan agama secara sempurna dan menjadi insan yang bertaqwa.

Sekian artikel yang telah membahas tentang Perbedaan Pidato dengan Ceramah. Semoga bermanfaat dan dapat diambil makna positifnya serta jangan lupa bagikan artikel ini untuk menambah ilmu bersama.

Baca Juga :